MANAJEMEN BENCANA
PENGANTAR MANAJEMEN BENCANA
Disasters (bencana) : kerusakan yang serius akibat fenomena alam luar biasa dan/atau disebabkan oleh ulah manusia
yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerugian material dan kerusakan lingkungan yang dampaknya melampaui
kemampuan masyarakat setempat untuk mengatasinya dan membutuhkan bantuan dari luar. Disaster terdiri dari 2(dua)
komponen yaitu Hazard dan Vulnerability;
Hazards : fenomena alam yang luar biasa yang berpotensi merusak atau mengancam kehidupan manusia, kehilangan
harta-benda, kehilangan mata pencaharian, kerusakan lingkungan. Misal : tanah longsor, banjir, gempa-bumi, letusan
gunung api, kebakaran dll;
Vulnerability (kerentanan) : keadaan atau kondisi yang dapat mengurangi kemampuan masyarakat untuk
mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya atau ancaman bencana;
Risk (resiko) : kemungkinan dampak yang merugikan yang diakibatkan oleh hazard dan/atau vulnerability.
JENIS ANCAMAN
Gempa Bumi
Gejala
Bergesernya kristal batuan disepanjang daerah yang rapuh dan saling bertabrakan;
Karakteristik umum
Bergetarnya bumi akibat gelombang dan dibawah permukaan bumi karena:
Permukaan yang bergeser - Getaran
Hentakan - Mencairnya es
Tsunami - Tanah Longsor
Letusan Gunung Berapi
Gejala
Bahan dasar letusan gunung berapi adalah magma dan akumulasi tekanan gas yang meningkat mengakibatkan terjadinya
semburan magma, yang disebut sebagai letusan.
Karakteristik umum
Hujan abu - Lahar
Arus pyroclastic/awan panas - Gas
Aliran lumpur atau puing - Tsunami
Tanah Longsor
Gejala
Miring/longsornya tanah dan batuan akibat getaran, perubahan arah air, beban yang berlebihan, cuaca, bergesernya
penopang, komposisi aliran air, rapuhan, berkurangnya unsur pengikat tanah, dan lereng buatan manusia.
Karakteristik umum
Jenis gerakan tanah longsor bervariasi: jatuh, longsor, robohnya penopang bumi, dan mungkin juga karena badai,
gempa bumi, dan letusan gunung berapi.
Lebih luas daripada gejala alam lainnya
Banjir
Gejala
Secara alamiah terjadi secara cepat, di daerah sungai atau pantai karena hujan yang terus menerus atau bersifat
musiman.
Ulah manusia dalam hal pemanfaatan lahan dan penampungan air.
Karakteristik umum
Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya – kedalaman air, durasi, kecepatan air, rata-rata kenaikan air, frekuensi
kejadian, cuaca
Banjir bandang – bendungan rusak, hujan yang tidak berhenti, hujan lebat secara tiba-tiba
Banjir sungai – lambat, dan biasanya musiman
Banjir pantai – berhubungan dengan angin tropis, gelombang tsunami, dan badai
Kekeringan
Gejala
Sebab utama – kurangnya curah hujan
Sebab lain – El Nino (serangan air permukaan panas ke air yang lebih dingin di Pasifik timur); makhluk hidup dapat
menyebabkan perubahan pada permukaan tanah.
Karakteristik umum
Air dan kelembaban akan berkurang
Kekeringan secara meteorologi – curah hujan dibawah harapan (kurang), dalam jangka waktu yang lama dan wilayah
yang luas.
Kekeringan hidrologi – terjadi karena defisit air pada permukaan (kondisi dibawah normal) atau frekuensi air tanah
yang kurang.
Kekeringan agrikultur – terjadi karena kurangnya frekuensi dan sebaran hujan, penyerapan serta penguapan air yang
menyebabkan rusak/berkurangnya lahan pertanian atau peternakan
SIKLUS BENCANA DAN PHASE-PHASE DALAM MANAJEMEN BENCANA
Tanggap Darurat Bencana Serangkaian tindakan yang diambil secara cepat menyusul terjadinya suatu peristiwa
bencana, termasuk penilaian kerusakan, kebutuhan (damage and needs assessment), penyaluran bantuan darurat, upaya
pertolongan, dan pembersihan lokasi bencana;
Tujuan :
Menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia;
Mengurangi penderitaan korban bencana;
Meminimalkan kerugian material;
Rehabilitasi : Serangkaian kegiatan yang dapat membantu korban bencana untuk kembali pada kehidupan normal yang
kemudian diintegrasikan kembali pada fungsi-fungsi yang ada di dalam masyarakat. Termasuk didalamnya adalah
penanganan korban bencana yang mengalami Trauma Psychologis. Misalnya : renovasi atau perbaikan sarana-sarana
umum, perumahan dan tempat penampungan sampai dengan penyediaan lapangan kegiatan untuk memulai hidup baru;
Rekonstruksi : Serangkaian kegiatan untuk mengembalikan situasi seperti sebelum terjadinya bencana, termasuk
pembangunan infrastruktur, menghidupkan akses sumber-sumber ekonomi, perbaikan lingkungan, pemberdayaan
masyarakat;
Berorientasi pada pembangunan - tujuan : mengurangi dampak bencana, dan di lain sisi memberikan manfaat secara
ekonomis pada masyarakat;
Kesiapsiagaan Bencana : Upaya-upaya yang memungkinkan masyarakat (individu, kelompok, organisasi) dapat
mengatasi bahaya peristiwa alam, melalui pembentukan struktur dan mekanisme tanggap darurat yang sistematis;
Tujuan : untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan sarana-sarana pelayanan umum;
BENCANA BENCANA Tanggap Darurat Tanggap Darurat
Rehabilitasi Rehabilitasi
Rekonstruksi Rekonstruksi
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Bantuan darurat
Untuk pemenuhan
Kebutuhan dasar dan
pemulihan
Normalisasi kehidupan
Perbaikan sarana dan
Prasarana umum
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Hazards, Risk
Mapping
Vulnerability and
Capacity assessment
Community awareness
Pembangunan sarana
dan prasarana umum,
bendungan, dll
BENCANA BENCANA Tanggap Darurat Tanggap Darurat
Rehabilitasi Rehabilitasi
Rekonstruksi Rekonstruksi
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Bantuan darurat
Untuk pemenuhan
Kebutuhan dasar dan
pemulihan
Normalisasi kehidupan
Perbaikan sarana dan
Prasarana umum
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Hazards, Risk
Mapping
Vulnerability and
Capacity assessment
Community awareness
Pembangunan sarana
dan prasarana umum,
bendungan, dll
Tanggap Darurat Tanggap Darurat
Rehabilitasi Rehabilitasi
Rekonstruksi Rekonstruksi
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Bantuan darurat
Untuk pemenuhan
Kebutuhan dasar dan
pemulihan
Normalisasi kehidupan
Perbaikan sarana dan
Prasarana umum
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Hazards, Risk
Mapping
Vulnerability and
Capacity assessment
Community awareness
Pembangunan sarana
dan prasarana umum,
bendungan, dllKesiapsiagaan Bencana meliputi : upaya mengurangi tingkat resiko, formulasi Rencana Darurat Bencana (Disasters Plan),
pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, pelatihan warga di lokasi rawan bencana;
Prevensi : Serangkaian kegiatan yang direkayasa untuk menyediakan sarana yang dapat memberikan perlindungan
permanen terhadap dampak peristiwa alam, yaitu rekayasa teknologi dalam pembangunan fisik;
Mitigasi : Serangkaian tindakan yang dilakukan sejak dari awal untuk menghadapi suatu peristiwa alam – dengan
mengurangi atau meminimalkan dampak peristiwa alam tersebut terhadap kelangsungan hidup manusia dan lingkungan
hidupnya (struktural);
Upaya penyadaran masyarakat terhadap potensi dan kerawanan (hazard) lingkungan dimana mereka berada, sehingga
mereka dapat mengelola upaya kesiapsiagaan terhadap bencana;
Pembangunan dam penahan banjir atau ombak;
Penanaman pohon bakau;
Penghijauan hutan;
Sistem Peringatan Dini : Informasi-informasi yang diberikan kepada masyarakat tentang kapan suatu bahaya peristiwa
alam dapat diidentifikasi dan penilaian tentang kemungkinan dampaknya pada suatu wilayah tertentu;
BENCANA
KESIAPSIAGAAN
INDIVIDU
ASSESSMENT
KOORDINASI
PB
RenOps
RELIEF
DISTRIBUSI
MONITORING
EVALUASI
PENGANTAR TANGGAP DARURAT
Tanggap Darurat Bencana Serangkaian tindakan yang diambil secara cepat menyusul terjadinya suatu peristiwa
bencana, termasuk penilaian kerusakan, kebutuhan (damage and needs assessment), penyaluran bantuan darurat, upaya
pertolongan, dan pembersihan lokasi bencana;
Tujuan
Menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia;
Mengurangi penderitaan korban bencana;
Meminimalkan kerugian material;
Faktor keberhasilan pencapaian tujuan
1. Informasi Seberapa banyak informasi yang kita dapatkan mengenai bencana dan akibat yang ditimbulkan
2. Daya Seberapa kuat sumber daya yang dimiliki oleh organisasi dan sumber daya lokal
LANGKAH - LANGKAH TANGGAP DARURAT
Kesiapsiagaan individu : hal – hal yang harus diperhatikan SEBELUM terlibat dalam tindakan tanggap darurat, karena
menyangkut keselamatan diri, dan seluruh anggota lainnya. Termasuk didalam Kesiapsiagaan individu adalah koordinasi
PB. Namun karena hal ini dilakukan dalam setiap tahap tindakan tanggap darurat, maka koordinasi PB akan dibahas
tersendiri.
Koordinasi PB : segala bentuk komunikasi, baik komunikasi internall maupun eksternal, yang bertujuan untuk
mendukung kegiatan penanggulangan bencana. Koordinasi dilakukan dalam setiap tahapan pada tanggap darurat.
Assessment : penilaian keadaan. Seperti koordinasi, assessment juga dilakukan dalam setiap tahapan dalam tanggap
darurat. Namun, untuk tindakan awal, yang harus dilakukan adalah assessment cepat, yang dilanjutkan dengan
assessment detil.
RenOps / SDP (Service Delivery Plan) : sebuah perencanaan yang dibuat berdasarkan hasil dari assessment. RenOps juga
merupakan perwujudan dari Action Plan.
Distribusi Bantuan : langkah berikutnya setelah RenOps disetujui. Dalam distribusi bantuan juga terkait mengenai
masalah pergudangan.
Monitor dan evaluasi : metode untuk memantau kegiatan. Secara garis besar, yang dipantau adalah kegiatan distribusi
bantuan, namun dapat juga melihat keseluruhan proses tanggap darurat
ASSESSMENT
Assessment : adalah identifikasi dan analisa atas sebuah situasi tertentu .
Tujuan dari Assessment
Mengidentifikasi dampak suatu situasi
Mengumpulkan informasi dasar
Mengidentifikasi kelompok yang paling rentan
Upaya mengobservasi situasi
Mengidentifikasi kemampuan respons semua pihak yang terkait (pada saat darurat)
Mengidentifikasi jenis bantuan yang dibutuhkan (pada saat darurat)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Assessment
Daftar pertanyaan
Komposisi anggota tim yang baik
Sarana transportasi yang baik
Kerangka waktu yang jelas
Menggunakan bahasa lokal
Kebutuhan darurat harus dapat dibedakan dari masalah yang memang telah ada
Mempertimbangkan kesetaraan jender
Tidak memberikan harapan
Menghindari bias dalam membuat kesimpulan
Membuat catatan
Metode Assessment
Mengumpulkan dan mengobservasi data sekunder
Observasi langsung di lapangan
Menanyakan pendapat para ahli
Mewawancarai lawan bicara yang kapabel
Diskusi grup
Survei
Dilakukan dengan mengisi lembar Assessment
Jenis Data
► Data Primer data – data yang diperoleh dari sumber – sumber terkait secara langsung dengan kejadian
bencana.
► Data Sekunder data – data pendukung yang dapat melengkapi informasi yang diperoleh dari dalam data
primer.
Cara Pengumpulan Data
► Data Primer : Pengamatan langsung, wawancara dan diskusi kelompok
► Data Sekunder : Dokumen-dokumen resmi, yang diperoleh dari Data pemerintah, Data bencana sebelumnya,
Hasil sensus, Laporan – laporan yang sudah ada, Lain – lain (contoh ; berita, koran, dll)
Analisis Data
► GIGO (Garbage in Garbage Out) Penyaringan hasil assessment. Mana yang perlu, mana yang tidak perlu.
► Lengkapi data yang diperoleh berdasarkan wawancara, dengan apa yang dilihat di lapangan (AWAS : BIAS !)
► Triangulasi data Cek silang data.
Beberapa hal yang dapat menghambat kegiatan Assessment
► Keterbatasan waktu, dan perubahan situasi yang tiba – tiba
► Kurangnya sumber daya manusia dan sumber daya lainnya
► Sulitnya berkoordinasi dengan lembaga – lembaga lain
► Kesulitan untuk bekerjasama dengan banyak orang, banyak pihak, dan situasi darurat
► Area assessment yang seringkali sulit untuk dicapai, ataupun membutuhkan waktu yang lebih lama
Hal-hal yang harus diperhatikan selama menjalankan Assessment :
Perhatikan data yang sudah ditemukan oleh
sumber lain.
Fokuskan pada kebutuhan yang darurat/ mendesak
Dalam mengumpulkan data, mulailah dari pihak
berwenang lokal, kemudian cek silang dengan
masyarakat.
Katakan pada semua pihak bahwa pekerjaan kita
hanyalah mengumpulkan data, dan keputusan
bukan diambil oleh kita.
JANGAN beri pengharapan atau janji – janji pada
semua pihak.
JANGAN abaikan sumber – sumber yang
tersedia.
PENAMPUNGAN SEMENTARA
Penampungan darurat : kegiatan suatu kelompok manusia yang memiliki kemampuan untuk menampung korban
bencana dalam jangka waktu tertentu, dengan menggunakan bangunan yang telah ada atau tempat berlindung yang dapat
dibuat dengan cepat seperti tenda, gubuk darurat, dan sebagainya.
Tujuan
Menyelamatkan atau mengamankan penderita dengan menjauhkannya dari tempat bencana yang dianggap
berbahaya, ketempat yang aman agar dapat memudahkan pemberian bantuan dan pertolongan secara menyeluruh dan
terpadu tanpa menimbulkan kesulitan baru yang sukar diatasi.
Pengorganisasian
A. Sasaran
1. Sasaran utama operasi pengungsian ialah memindahkan penduduk (termasuk yang luka/sakit) dari daerah
bencana ketempat lain yang sudah disiapkan.
2. Berusaha memperkecil kemungkinan terjadinya korban atau resiko baik fisik, material maupun spiritual ditempat
terjadinya bencana dan pada saat pelaksanaan pengungsian menuju ke penampungan sementara
B. Prioritas
Yang pertama-tama harus dilakukan ialah memindahkan orang – orang yang luka berat atau pasien – pasien yang
memerlukan perawatan lebih lanjut ke Rumah Sakit terdekat atau Rumah Sakit Rujukan.
C. Langkah-langkah yang perlu diambil
1. Membantu meyakinkan penduduk bahwa demi keselamatan mereka harus diungsikan ketempat yang lebih aman ;
2. Menyiapkan suatu bentuk atau sistem transportasi yang tepat bagi penduduk yang diungsikan ;
3. Menyiapkan persediaan dan memberikan makanan, minuman dan keperluan lain yang cukup untuk penduduk
yang akan diungsikan selamam dalam perjalanan samapai ketempat penampungan sementara ;
4. Menyiapkan obat – obatan dan memberikan perawatan medis selama dalam perjalanan
5. Menyelenggarakan pencatatan nama – nama penduduk yang diungsikan termasuk yang luka, sakit dan meninggal
dunia ;
6. Membantu petugas keamanan setempat dalam melindungi harta milik dan barang-barang kebutuhan hidup
penduduk yang diungsikan ;
7. Sesampai di tempat tujuan para pengungsi hendaklah diserah terimakan secara baik kepada pengurus
penampungan sementara atau darurat untuk penanganan lebih lanjut
Persyaratan penampungan sementara
1. Pemilihan tempat meliputi
Lokasi penampungan seharusnya berada didaerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi terhadap
gangguan keamanan baik internal maupun external;
Jauh dari lokasi daerah rawan bencana;
Hak penggunaan lahan seharusnya memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi dengan
pemerintah setempat;
Memiliki akses jalan yang mudah;
Dekat dengan sumber mata air, sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK;
Dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan tempat
beribadah atau dapat disediakan secara memadai.
2. Penampungan harus dapat meliputi kebutuhan ruangan
Lokasi penampungan seharusnya berada didaerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi terhadap
gangguan keamanan baik internal maupun external;
Jauh dari lokasi daerah rawan bencana;
Hak penggunaan lahan seharusnya memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi dengan
pemerintah setempat;
Memiliki akses jalan yang mudah;
Dekat dengan sumber mata air, sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK;
Dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan tempat
beribadah atau dapat disediakan secara memadai.
3. Bahan pertimbangan untuk penampungan
Idealnya, ada beberapa akses untuk memasuki areal penampungan dan bukan merupakan akses langsung dari
komunitas terdekat;
Tanah diareal penampungan seharusnya memiliki tingkat kemiringan yang landai untuk melancarkan saluran
pembuangan air;
Tanah diareal penampungan seharusnya bukan merupakan areal endemik penyakit;
Lokasi penampungan seharusnya tidak dekat dengan habitat yang dilindungi atau dilarang seperti kawasan
konservasi hutan, perkebunan, lahan tanaman; Pengalokasian tempat penampungan seharusnya menggunakan cara yang bijak mengikuti dengan adat budaya
setempat;
Libatkan masyarakat dalam pemilihan lokasi dan perencanaan
4. Penampungan harus dapat meliputi kebutuhan ruangan :
Posko
Pos Pelayanan Komunikasi
Pos Dapur Umum
Pos Watsan
Pos TMS
Pos PSP
Pos Humas dan Komunikasi
Pos Relief dan Distribusi
Pos Assessment
Pos Pencarian dan Evakuasi
Jenis penampungan Sementara
Untuk menampung korban bencana diperlukan tempat penampungan sementara berupa :
1. Bangunan yang sudah tersedia yang bisa dimanfaatkan
Contoh : gereja, masjid, sekolahan, balai desa, gudang
2. Tenda ( penampungan darurat yang paling praktis )
Contoh : tenda pleton, tenda regu, tenda keluarga, tenda pesta
3. Bahan seadanya
Contoh : kayu, dahan , ranting, pelepah kelapa dll
Perencanaan
Setelah data assesment diperoleh, maka rencana umum harus diketahui oleh semu petugas pada saat aman (kesiapsiagaan)
, meliputi :
1. Waktu yang diperlukan untuk menuju ke daerah rawan bencana dan lokasi penampungan
2. Tempat Penampungan Sementara dapat menampung beberapa pengungsi
3. Beberapa bangunan yang dapat dipakai dan di mana bengunan itu dapat dipakai untuk menampung pengungsi
4. Personil yang dibutuhkan
5. Peralatan yang diperlukan
Pelaksanaan
• Lahan yang dibutuhkan untuk satu jiwa 45 m2;
• Ruang tenda/shelter per jiwa 3.5 m2;
• Jumlah jiwa untuk satu tempat pengambilan air = 250 jiwa;
• Jumlah jiwa untuk satu MCK = 20 jiwa;
• Jarak ke sumber air tidak melampui jarak 15 m;
• Jarak ke MCK 30 m;
• Jarak sumber air dengan MCK 100 m
• Jarak antara dua tenda/shelter minimal 2 m
LOGISTIK
Logistik : mekanisme PENDUKUNG dalam rangka penyediaan barang dan jasa (Logistik BUKAN merupakan
program), Logistik terlibat sejak dari AWAL untuk semua kegiatan.
3 ( tiga ) hal pokok yang perlu diperhatikan dalam rangka memenuhi opsi terbaik dalam penyediaan barang dan
jasa
• Standarisasi - pengaturan/mekanisme kerja yang seragam;
• Sistim yang fleksibel untuk mengkontrol mata rantai pasokan barang untuk memenuhi kebutuhan operasional di
lapangan;
• SDM yang kapabel (Profesional) – logistik merupakan pekerjaan yang sangat kompleks sehingga memerlukan ahli di
bidang tersebut;
Fungsi Penting Berkaitan dalam Logistik
☻ Assessment dan Perencanaan
☻ Penyediaan Barang dan Jasa
☻ Pengelolaan Pergudangan
☻ Pengelolaan Transportasi
☻ Pelaporan.
Identifikasi Bantuan
Bantuan dapat diidentifikasikan berdasarkan jenis dan prinsip. Jenis bantuan terdiri dari bantuan pangan dan non pangan,
bantuan air bersih dan sanitasi, bantuan penampungan, serta bantuan kesehatan
☻ Bantuan pangan dan non pangan :
Bantuan pangan dapat berupa makanan jadi, siap makan, maupun bantuan pangan berupa bahan mentah ( beras, mi
instan, daging kaleng, dll ). Sedangkan untuk bantuan non pangan lebih diartikan pada bantuan berupa alat kebersihan
diri ( Hygiene Kit ) maupun perlengkapan keluarga, termasuk didalamnya alat-alat dapur dan pakaian.
☻ Bantuan air bersih dan sanitasi :
Bantuan air bersih dan sanitasi dapat berupa penyuplaian air bersih ke lokasi darurat ataupun pembangunan sarana
pembuangan, drainase, dan MCK sementara.
☻ Bantuan penampungan :
Bantuan penampungan tidak selalu diartikan membangun tenda penampungan, melainkan juga dapat berarti
menggunakan fasilitas bangunan yang masih ada untuk dijadikan tempat penampungan. Termasuk di dalam bantuan
penampungan adalah bantuan untuk bahan pangan dengan mendirikan Dapur Umum
☻ Bantuan kesehatan :
Bantuan kesehatan yang diberikan biasanya dalam bentuk Posko Kesehatan, pengobatan dan obat-obatan gratis,
ataupun penyediaan tenaga kesehatan
Prinsip bantuan PMI adalah :
☻ Diberikan secara langsung kepada korban bencana yang berhak menerimanya
☻ Diberikan secara langsung oleh Petugas PMI dan tidak diserahkan melalui pihak ketiga
☻ Harus dilengkapi dengan tanda penganal PMI ( logo ), baik pada kemasan barang maupun pada lokasi distribusi
Pertimbangan Distribusi
☻ Komposisi usia dan komposisi jenis kelamin
☻ Ketersediaan sumber daya manusia dan sarana transportasi
☻ Kondisi keamanan
☻ Jenis bencana
☻ Jumlah penerima bantuan
☻ Jenis bantuan yang diberikan
☻ Jangka waktu operasi
☻ Lokasi distribusi ( cukup menampung total penerima bantuan )
☻ Menjamin keamanan barang ( misal : alam = hujan, panas matahari )
☻ Menjamin keamanan petugas
☻ Mudah diakses
Panca Tepat
☻ Tepat waktu :
Dalam melakukan distribusi bantuan, ketepatan waktu adalah hal yang terpenting. Bantuan yang berguna apabila
diberikan pada waktu yang salah, maka akan kehilangan kegunaannya. Selain itu juga, bantuan yang tepat waktu akan
membantu mengurangi tingkat penderitaan manusia
☻ Tepat tempat : Tepat tempat di sini dapat berarti pemilihan tempat distribusi yang tepat, dan dapat juga berarti pemilihan barang
distribusi yang tepat dengan tempatnya. Kedua terminologi ini dapat berlaku, tergantung pada situasi dan kondisi
penyertanya.
☻ Tepat sasaran :
Sasaran yang tepat dalam penyaluran bantuanadalah berpegang pada prinsip golongan yang pal ing rentan ( most
vulnerable people )
☻ Tepat jumlah :
Jumlah yang tepat akan memperlancar aktifitas dan akan menghindarkan dari masalah yang lebih besar lagi ( contoh :
ketidakadilan ). Jumlah yang tepat tidak selalu harus memberikan jumlah yang banyak ataupun berlebih pada
masyarakat di lokasi darurat. Namun sesuai dengan kebutuhan, berdasarkan pada sasaran yang dituju.
☻ Tepat kualitas :
Tepat kualitas adalah memberikan barang bantuan dengan kualitas yang layak. Bukan merupakan barang bantuan
dengan kualitas tertinggi, namun juga bukan barang yang tidak berkualitas.
Panca Tepat sangat berkaitan erat dengan akuntabilitas organisasi di masyarakat, pemenuhan panca tepat akan semakin
memperkuat kepercayaan masyarakat pada organisasi
DAPUR UMUM
Pengertian Dapur Umum
Dapur Umum adalah Dapur Umum Lapangan yang diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia untuk
menyediakan atau menyiapkan makanan dan dapat didistribusikan kepada korban bencana dalam waktu cepat dan tepat
Penyelenggaraan Dapur Umum dilakukan apabila tidak memungkinkan bantuan mentah untuk korban bencana.
Penyelenggaraan Dapur Umum untuk melayani kebutuhan makan para penderita / korban bencana bukan monopoli
organisasi PMI, namun dapat diselenggarakan oleh siapa saja dan dapat menyelenggarakannya
Penyelenggaraan Dapur Umum yang diselenggarakan oleh PMI Cabang menjadi tanggungjawab Pengurus PMI
Cabang, yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh regu yang ditugaskan oleh Pengurus Cabang. Regu disesuaikan
dengan kebutuhan dan jumlah korban yang harus dilayani.
Tim Pengelola
Pembagian Tim Pengelola ( Regu – Kelompok – Sektor ) dalam pelaksanaan Dapur Umum yang disesuaikan dengan
kebutuhaan dan jumlah sasaran penerima bantuan yang harus dilayani
◙ Regu :
Satu regu yang menangani 1 unit dapur umum dengan kapasitas maksimal melayani 500 orang sekurang-kurangnya
terdiri dari :
1. 1 orang Ketua Regu
2. 1 orang Wakil Ketua Regu
3. 1 orang Penanggungjawab Tata Usaha
4. 1 orang Penanggungjawab Peralatan dan Perlengkapan
5. 1 orang Penanggungjawab Memasak
6. 1 orang Penanggungjawab Distribusi
7. Beberapa orang tenaga yang membantu terdiri dari unsur masyarakat di daerah bencana dan sekitarnya
◙ Kelompok :
Bila diperlukan lebih dari satu regu Dapur Umum sekaligus, maka regu – regu tersebut diberi nomor urut dan
dihimpun dalam kelompok. Kelompok dipimpin oleh Ketua Kelompok dan jika perlu dibantu oleh seorang pembantu
umum
◙ Sektor :
Apabila masyarakat yang dilayani cukup besar jumlahnya dan terpencar di daerah yang cukup luas, maka kelompok-
kelompok Dapur Umum tersebut dapat dihimpun dalam satu wilayah kerja yang disebut sektor. Sektor tersebut
dipimpin oleh Ketua dan seorang pembantu umum
Dalam menentukan lokasi agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Letak Dapur Umum dekat dengan posko atau penampungan supaya mudah dicapai atau dikunjungi oleh korban
2. Kebersihan lingkungan cukup memadai
3. Aman dari bencana
4. Dekat dengan transportasi umum
5. Dekat dengan sumber air
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendistribusian :
1. Distribusi dilakukan dengan menggunakan kartu distribusi
2. Lokasi atau tempat pendistribusian yang aman dan mudah dicapai oleh korban
3. Waktu pendistribusian yang konsisten dan tepat waktu
4. Pengambilan jatah seyogyanya diambil oleh KK atau perwakilan yang sah
5. Pembagian makanan bisa menggunakan daun, piring, kertas, atau sesuai dengan pertimbangan aman, cepat, praktis,
dan sehat
Lama penyelenggaraan :
1. Diselenggarakan bila situasi untuk memberikan bahan mentah tidak mungkin
2. Lamanya 1 – 3 hari untuk seluruh korban bencana
3. Hari ke 4 – 7 pemberian dilakukan secara selektif
4. Setelah lebih dari 7 hari diupayakan bantuan berupa bahan mentah
Kaitan Dapur Umum dengan Standar Minimum
Standar-standar minimum ketahanan pangan, gizi, dan bantuan pangan adalah suatu pernyataan praktis dari asas-
asas dan hak-hak seperti yang terkandung dalam Piagam kemanusiaan.Setiap orang berhak atas pangan yang cukup, hak
ini diakui dalam Instrumen Hukum Internasional dan termasuk hal untuk terbebas dari kelaparan.
Aspek-aspek hak untuk mendapatkan kecukupan pangan tersebut di atas mencakup :
◙ Ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi individu, bebas dari
bahan-bahan yanag merugikan, dan dapat diterima dalam suatu budaya tertentu.
◙ Pengan tersebut dapat dijangkau dengan cara berkesinambungan dan tidak mengganggu pemenuhan hak-hak asasi
manusia lainnya Pentingnya ketahanan pangan dalam masa bencana :
◙ Ketahanan Pangan :
Tercapai ketika semua orang dalam masa apapun mempunyai akses fisik dan ekonomis terhadap pangan yang cukup,
aman, dan bergizi untuk dapat hidup sehat
◙ Penghidupan :
Terdiri dari kemampuan, harta benda, dan aktivitas yang diperlukan untuk sarana kehidupan yang terkait dengan
pertahanan hidup dan kesejahteraan di masa mendatang
◙ Kekurangan Gizi :
Mencakup satu cakupan berbagai kondisi termasuk kekurangan gizi akut, kekurangan gizi kronis, dan kekurangan
vitamin dan mineral.
Peralatan dan Perlengkapan
Untuk melayani kurang lebih 500 orang diperlukan satu unit peralatan yang terdiri dari:
1. Peralatan pokok
a. Langseng ukuran 100 liter 2 buah
b. Drum air ukuran 50 liter 2 buah
c. Panci ukuran besar ...... 2 buah
d. Wajan no.48 ................ 2 buah
e. Serok penggorengan ... 1 buah
f. Susuk wajan ............ …… 2 buah
g. Sendok takaran 300 gram 2 buah
h. Sendok sayur ¼ liter ... 2 buah
i. Panci untuk tempat nasi 2 buah
2. Peralatan penunjang
a. Ember plastik biasa dan pakai tutup masing-masing 2 dan 3 buah
b. Centong air dari plastik 2 buah
c. Cobek batu ................. 2 set
d. Pisau dapur ................ 3 buah
e. Golok ......................... 1 buah
f. Talenan ...................... 2 buah
g. Ayakan bambu/plastik 2 buah
h. Drum air .................... 1 buah
3. Tungku
Tungku yang dipergunakan dalam Dapur Umum dapat berupa tungku sederhana dan dapat juga
menggunakan kompor, baik itu kompor gas elpiji maupun kompor pompa minyak tanah
Contoh kartu distribusi dan Rekapitulasi Distribusi.
KARTU DISTRIBUSI
Nomor Dapur : .......................................................
Nomor Kode D. U. : .......................................................
Nama Kepala Keluarga : .......................................................
Jumlah Jiwa : .......................................................
Alamat/Lokasi/Pos : .......................................................
Tanggal Makan Pagi Makan Sore Keterangan
REKAPITULASI DISTRIBUSI
Alamat/Lokasi/Pos : .......................................................
Nomor Dapur : .......................................................
Tanggal : .......................................................
No Nama KK
Jumlah Jiwa *) Makan
Pagi
Makan
Sore
Keterangan
D A B
*) catatan
D = dewasa
A = anak-anak
B = bayi
..............,...................
Petugas Distribusi,
.......................................
PENGANTAR MANAJEMEN BENCANA
Disasters (bencana) : kerusakan yang serius akibat fenomena alam luar biasa dan/atau disebabkan oleh ulah manusia
yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerugian material dan kerusakan lingkungan yang dampaknya melampaui
kemampuan masyarakat setempat untuk mengatasinya dan membutuhkan bantuan dari luar. Disaster terdiri dari 2(dua)
komponen yaitu Hazard dan Vulnerability;
Hazards : fenomena alam yang luar biasa yang berpotensi merusak atau mengancam kehidupan manusia, kehilangan
harta-benda, kehilangan mata pencaharian, kerusakan lingkungan. Misal : tanah longsor, banjir, gempa-bumi, letusan
gunung api, kebakaran dll;
Vulnerability (kerentanan) : keadaan atau kondisi yang dapat mengurangi kemampuan masyarakat untuk
mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya atau ancaman bencana;
Risk (resiko) : kemungkinan dampak yang merugikan yang diakibatkan oleh hazard dan/atau vulnerability.
JENIS ANCAMAN
Gempa Bumi
Gejala
Bergesernya kristal batuan disepanjang daerah yang rapuh dan saling bertabrakan;
Karakteristik umum
Bergetarnya bumi akibat gelombang dan dibawah permukaan bumi karena:
Permukaan yang bergeser - Getaran
Hentakan - Mencairnya es
Tsunami - Tanah Longsor
Letusan Gunung Berapi
Gejala
Bahan dasar letusan gunung berapi adalah magma dan akumulasi tekanan gas yang meningkat mengakibatkan terjadinya
semburan magma, yang disebut sebagai letusan.
Karakteristik umum
Hujan abu - Lahar
Arus pyroclastic/awan panas - Gas
Aliran lumpur atau puing - Tsunami
Tanah Longsor
Gejala
Miring/longsornya tanah dan batuan akibat getaran, perubahan arah air, beban yang berlebihan, cuaca, bergesernya
penopang, komposisi aliran air, rapuhan, berkurangnya unsur pengikat tanah, dan lereng buatan manusia.
Karakteristik umum
Jenis gerakan tanah longsor bervariasi: jatuh, longsor, robohnya penopang bumi, dan mungkin juga karena badai,
gempa bumi, dan letusan gunung berapi.
Lebih luas daripada gejala alam lainnya
Banjir
Gejala
Secara alamiah terjadi secara cepat, di daerah sungai atau pantai karena hujan yang terus menerus atau bersifat
musiman.
Ulah manusia dalam hal pemanfaatan lahan dan penampungan air.
Karakteristik umum
Faktor yang mempengaruhi tingkat bahaya – kedalaman air, durasi, kecepatan air, rata-rata kenaikan air, frekuensi
kejadian, cuaca
Banjir bandang – bendungan rusak, hujan yang tidak berhenti, hujan lebat secara tiba-tiba
Banjir sungai – lambat, dan biasanya musiman
Banjir pantai – berhubungan dengan angin tropis, gelombang tsunami, dan badai
Kekeringan
Gejala
Sebab utama – kurangnya curah hujan
Sebab lain – El Nino (serangan air permukaan panas ke air yang lebih dingin di Pasifik timur); makhluk hidup dapat
menyebabkan perubahan pada permukaan tanah.
Karakteristik umum
Air dan kelembaban akan berkurang
Kekeringan secara meteorologi – curah hujan dibawah harapan (kurang), dalam jangka waktu yang lama dan wilayah
yang luas.
Kekeringan hidrologi – terjadi karena defisit air pada permukaan (kondisi dibawah normal) atau frekuensi air tanah
yang kurang.
Kekeringan agrikultur – terjadi karena kurangnya frekuensi dan sebaran hujan, penyerapan serta penguapan air yang
menyebabkan rusak/berkurangnya lahan pertanian atau peternakan
SIKLUS BENCANA DAN PHASE-PHASE DALAM MANAJEMEN BENCANA
Tanggap Darurat Bencana Serangkaian tindakan yang diambil secara cepat menyusul terjadinya suatu peristiwa
bencana, termasuk penilaian kerusakan, kebutuhan (damage and needs assessment), penyaluran bantuan darurat, upaya
pertolongan, dan pembersihan lokasi bencana;
Tujuan :
Menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia;
Mengurangi penderitaan korban bencana;
Meminimalkan kerugian material;
Rehabilitasi : Serangkaian kegiatan yang dapat membantu korban bencana untuk kembali pada kehidupan normal yang
kemudian diintegrasikan kembali pada fungsi-fungsi yang ada di dalam masyarakat. Termasuk didalamnya adalah
penanganan korban bencana yang mengalami Trauma Psychologis. Misalnya : renovasi atau perbaikan sarana-sarana
umum, perumahan dan tempat penampungan sampai dengan penyediaan lapangan kegiatan untuk memulai hidup baru;
Rekonstruksi : Serangkaian kegiatan untuk mengembalikan situasi seperti sebelum terjadinya bencana, termasuk
pembangunan infrastruktur, menghidupkan akses sumber-sumber ekonomi, perbaikan lingkungan, pemberdayaan
masyarakat;
Berorientasi pada pembangunan - tujuan : mengurangi dampak bencana, dan di lain sisi memberikan manfaat secara
ekonomis pada masyarakat;
Kesiapsiagaan Bencana : Upaya-upaya yang memungkinkan masyarakat (individu, kelompok, organisasi) dapat
mengatasi bahaya peristiwa alam, melalui pembentukan struktur dan mekanisme tanggap darurat yang sistematis;
Tujuan : untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan sarana-sarana pelayanan umum;
BENCANA BENCANA Tanggap Darurat Tanggap Darurat
Rehabilitasi Rehabilitasi
Rekonstruksi Rekonstruksi
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Bantuan darurat
Untuk pemenuhan
Kebutuhan dasar dan
pemulihan
Normalisasi kehidupan
Perbaikan sarana dan
Prasarana umum
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Hazards, Risk
Mapping
Vulnerability and
Capacity assessment
Community awareness
Pembangunan sarana
dan prasarana umum,
bendungan, dll
BENCANA BENCANA Tanggap Darurat Tanggap Darurat
Rehabilitasi Rehabilitasi
Rekonstruksi Rekonstruksi
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Bantuan darurat
Untuk pemenuhan
Kebutuhan dasar dan
pemulihan
Normalisasi kehidupan
Perbaikan sarana dan
Prasarana umum
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Hazards, Risk
Mapping
Vulnerability and
Capacity assessment
Community awareness
Pembangunan sarana
dan prasarana umum,
bendungan, dll
Tanggap Darurat Tanggap Darurat
Rehabilitasi Rehabilitasi
Rekonstruksi Rekonstruksi
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Pencegahan
Kesiapsiagaan
Mitigasi
Peringatan Dini
Bantuan darurat
Untuk pemenuhan
Kebutuhan dasar dan
pemulihan
Normalisasi kehidupan
Perbaikan sarana dan
Prasarana umum
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Pembangunan dan
Mitigasi Struktural
Hazards, Risk
Mapping
Vulnerability and
Capacity assessment
Community awareness
Pembangunan sarana
dan prasarana umum,
bendungan, dllKesiapsiagaan Bencana meliputi : upaya mengurangi tingkat resiko, formulasi Rencana Darurat Bencana (Disasters Plan),
pengelolaan sumber-sumber daya masyarakat, pelatihan warga di lokasi rawan bencana;
Prevensi : Serangkaian kegiatan yang direkayasa untuk menyediakan sarana yang dapat memberikan perlindungan
permanen terhadap dampak peristiwa alam, yaitu rekayasa teknologi dalam pembangunan fisik;
Mitigasi : Serangkaian tindakan yang dilakukan sejak dari awal untuk menghadapi suatu peristiwa alam – dengan
mengurangi atau meminimalkan dampak peristiwa alam tersebut terhadap kelangsungan hidup manusia dan lingkungan
hidupnya (struktural);
Upaya penyadaran masyarakat terhadap potensi dan kerawanan (hazard) lingkungan dimana mereka berada, sehingga
mereka dapat mengelola upaya kesiapsiagaan terhadap bencana;
Pembangunan dam penahan banjir atau ombak;
Penanaman pohon bakau;
Penghijauan hutan;
Sistem Peringatan Dini : Informasi-informasi yang diberikan kepada masyarakat tentang kapan suatu bahaya peristiwa
alam dapat diidentifikasi dan penilaian tentang kemungkinan dampaknya pada suatu wilayah tertentu;
BENCANA
KESIAPSIAGAAN
INDIVIDU
ASSESSMENT
KOORDINASI
PB
RenOps
RELIEF
DISTRIBUSI
MONITORING
EVALUASI
PENGANTAR TANGGAP DARURAT
Tanggap Darurat Bencana Serangkaian tindakan yang diambil secara cepat menyusul terjadinya suatu peristiwa
bencana, termasuk penilaian kerusakan, kebutuhan (damage and needs assessment), penyaluran bantuan darurat, upaya
pertolongan, dan pembersihan lokasi bencana;
Tujuan
Menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia;
Mengurangi penderitaan korban bencana;
Meminimalkan kerugian material;
Faktor keberhasilan pencapaian tujuan
1. Informasi Seberapa banyak informasi yang kita dapatkan mengenai bencana dan akibat yang ditimbulkan
2. Daya Seberapa kuat sumber daya yang dimiliki oleh organisasi dan sumber daya lokal
LANGKAH - LANGKAH TANGGAP DARURAT
Kesiapsiagaan individu : hal – hal yang harus diperhatikan SEBELUM terlibat dalam tindakan tanggap darurat, karena
menyangkut keselamatan diri, dan seluruh anggota lainnya. Termasuk didalam Kesiapsiagaan individu adalah koordinasi
PB. Namun karena hal ini dilakukan dalam setiap tahap tindakan tanggap darurat, maka koordinasi PB akan dibahas
tersendiri.
Koordinasi PB : segala bentuk komunikasi, baik komunikasi internall maupun eksternal, yang bertujuan untuk
mendukung kegiatan penanggulangan bencana. Koordinasi dilakukan dalam setiap tahapan pada tanggap darurat.
Assessment : penilaian keadaan. Seperti koordinasi, assessment juga dilakukan dalam setiap tahapan dalam tanggap
darurat. Namun, untuk tindakan awal, yang harus dilakukan adalah assessment cepat, yang dilanjutkan dengan
assessment detil.
RenOps / SDP (Service Delivery Plan) : sebuah perencanaan yang dibuat berdasarkan hasil dari assessment. RenOps juga
merupakan perwujudan dari Action Plan.
Distribusi Bantuan : langkah berikutnya setelah RenOps disetujui. Dalam distribusi bantuan juga terkait mengenai
masalah pergudangan.
Monitor dan evaluasi : metode untuk memantau kegiatan. Secara garis besar, yang dipantau adalah kegiatan distribusi
bantuan, namun dapat juga melihat keseluruhan proses tanggap darurat
ASSESSMENT
Assessment : adalah identifikasi dan analisa atas sebuah situasi tertentu .
Tujuan dari Assessment
Mengidentifikasi dampak suatu situasi
Mengumpulkan informasi dasar
Mengidentifikasi kelompok yang paling rentan
Upaya mengobservasi situasi
Mengidentifikasi kemampuan respons semua pihak yang terkait (pada saat darurat)
Mengidentifikasi jenis bantuan yang dibutuhkan (pada saat darurat)
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Assessment
Daftar pertanyaan
Komposisi anggota tim yang baik
Sarana transportasi yang baik
Kerangka waktu yang jelas
Menggunakan bahasa lokal
Kebutuhan darurat harus dapat dibedakan dari masalah yang memang telah ada
Mempertimbangkan kesetaraan jender
Tidak memberikan harapan
Menghindari bias dalam membuat kesimpulan
Membuat catatan
Metode Assessment
Mengumpulkan dan mengobservasi data sekunder
Observasi langsung di lapangan
Menanyakan pendapat para ahli
Mewawancarai lawan bicara yang kapabel
Diskusi grup
Survei
Dilakukan dengan mengisi lembar Assessment
Jenis Data
► Data Primer data – data yang diperoleh dari sumber – sumber terkait secara langsung dengan kejadian
bencana.
► Data Sekunder data – data pendukung yang dapat melengkapi informasi yang diperoleh dari dalam data
primer.
Cara Pengumpulan Data
► Data Primer : Pengamatan langsung, wawancara dan diskusi kelompok
► Data Sekunder : Dokumen-dokumen resmi, yang diperoleh dari Data pemerintah, Data bencana sebelumnya,
Hasil sensus, Laporan – laporan yang sudah ada, Lain – lain (contoh ; berita, koran, dll)
Analisis Data
► GIGO (Garbage in Garbage Out) Penyaringan hasil assessment. Mana yang perlu, mana yang tidak perlu.
► Lengkapi data yang diperoleh berdasarkan wawancara, dengan apa yang dilihat di lapangan (AWAS : BIAS !)
► Triangulasi data Cek silang data.
Beberapa hal yang dapat menghambat kegiatan Assessment
► Keterbatasan waktu, dan perubahan situasi yang tiba – tiba
► Kurangnya sumber daya manusia dan sumber daya lainnya
► Sulitnya berkoordinasi dengan lembaga – lembaga lain
► Kesulitan untuk bekerjasama dengan banyak orang, banyak pihak, dan situasi darurat
► Area assessment yang seringkali sulit untuk dicapai, ataupun membutuhkan waktu yang lebih lama
Hal-hal yang harus diperhatikan selama menjalankan Assessment :
Perhatikan data yang sudah ditemukan oleh
sumber lain.
Fokuskan pada kebutuhan yang darurat/ mendesak
Dalam mengumpulkan data, mulailah dari pihak
berwenang lokal, kemudian cek silang dengan
masyarakat.
Katakan pada semua pihak bahwa pekerjaan kita
hanyalah mengumpulkan data, dan keputusan
bukan diambil oleh kita.
JANGAN beri pengharapan atau janji – janji pada
semua pihak.
JANGAN abaikan sumber – sumber yang
tersedia.
PENAMPUNGAN SEMENTARA
Penampungan darurat : kegiatan suatu kelompok manusia yang memiliki kemampuan untuk menampung korban
bencana dalam jangka waktu tertentu, dengan menggunakan bangunan yang telah ada atau tempat berlindung yang dapat
dibuat dengan cepat seperti tenda, gubuk darurat, dan sebagainya.
Tujuan
Menyelamatkan atau mengamankan penderita dengan menjauhkannya dari tempat bencana yang dianggap
berbahaya, ketempat yang aman agar dapat memudahkan pemberian bantuan dan pertolongan secara menyeluruh dan
terpadu tanpa menimbulkan kesulitan baru yang sukar diatasi.
Pengorganisasian
A. Sasaran
1. Sasaran utama operasi pengungsian ialah memindahkan penduduk (termasuk yang luka/sakit) dari daerah
bencana ketempat lain yang sudah disiapkan.
2. Berusaha memperkecil kemungkinan terjadinya korban atau resiko baik fisik, material maupun spiritual ditempat
terjadinya bencana dan pada saat pelaksanaan pengungsian menuju ke penampungan sementara
B. Prioritas
Yang pertama-tama harus dilakukan ialah memindahkan orang – orang yang luka berat atau pasien – pasien yang
memerlukan perawatan lebih lanjut ke Rumah Sakit terdekat atau Rumah Sakit Rujukan.
C. Langkah-langkah yang perlu diambil
1. Membantu meyakinkan penduduk bahwa demi keselamatan mereka harus diungsikan ketempat yang lebih aman ;
2. Menyiapkan suatu bentuk atau sistem transportasi yang tepat bagi penduduk yang diungsikan ;
3. Menyiapkan persediaan dan memberikan makanan, minuman dan keperluan lain yang cukup untuk penduduk
yang akan diungsikan selamam dalam perjalanan samapai ketempat penampungan sementara ;
4. Menyiapkan obat – obatan dan memberikan perawatan medis selama dalam perjalanan
5. Menyelenggarakan pencatatan nama – nama penduduk yang diungsikan termasuk yang luka, sakit dan meninggal
dunia ;
6. Membantu petugas keamanan setempat dalam melindungi harta milik dan barang-barang kebutuhan hidup
penduduk yang diungsikan ;
7. Sesampai di tempat tujuan para pengungsi hendaklah diserah terimakan secara baik kepada pengurus
penampungan sementara atau darurat untuk penanganan lebih lanjut
Persyaratan penampungan sementara
1. Pemilihan tempat meliputi
Lokasi penampungan seharusnya berada didaerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi terhadap
gangguan keamanan baik internal maupun external;
Jauh dari lokasi daerah rawan bencana;
Hak penggunaan lahan seharusnya memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi dengan
pemerintah setempat;
Memiliki akses jalan yang mudah;
Dekat dengan sumber mata air, sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK;
Dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan tempat
beribadah atau dapat disediakan secara memadai.
2. Penampungan harus dapat meliputi kebutuhan ruangan
Lokasi penampungan seharusnya berada didaerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi terhadap
gangguan keamanan baik internal maupun external;
Jauh dari lokasi daerah rawan bencana;
Hak penggunaan lahan seharusnya memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi dengan
pemerintah setempat;
Memiliki akses jalan yang mudah;
Dekat dengan sumber mata air, sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK;
Dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan tempat
beribadah atau dapat disediakan secara memadai.
3. Bahan pertimbangan untuk penampungan
Idealnya, ada beberapa akses untuk memasuki areal penampungan dan bukan merupakan akses langsung dari
komunitas terdekat;
Tanah diareal penampungan seharusnya memiliki tingkat kemiringan yang landai untuk melancarkan saluran
pembuangan air;
Tanah diareal penampungan seharusnya bukan merupakan areal endemik penyakit;
Lokasi penampungan seharusnya tidak dekat dengan habitat yang dilindungi atau dilarang seperti kawasan
konservasi hutan, perkebunan, lahan tanaman; Pengalokasian tempat penampungan seharusnya menggunakan cara yang bijak mengikuti dengan adat budaya
setempat;
Libatkan masyarakat dalam pemilihan lokasi dan perencanaan
4. Penampungan harus dapat meliputi kebutuhan ruangan :
Posko
Pos Pelayanan Komunikasi
Pos Dapur Umum
Pos Watsan
Pos TMS
Pos PSP
Pos Humas dan Komunikasi
Pos Relief dan Distribusi
Pos Assessment
Pos Pencarian dan Evakuasi
Jenis penampungan Sementara
Untuk menampung korban bencana diperlukan tempat penampungan sementara berupa :
1. Bangunan yang sudah tersedia yang bisa dimanfaatkan
Contoh : gereja, masjid, sekolahan, balai desa, gudang
2. Tenda ( penampungan darurat yang paling praktis )
Contoh : tenda pleton, tenda regu, tenda keluarga, tenda pesta
3. Bahan seadanya
Contoh : kayu, dahan , ranting, pelepah kelapa dll
Perencanaan
Setelah data assesment diperoleh, maka rencana umum harus diketahui oleh semu petugas pada saat aman (kesiapsiagaan)
, meliputi :
1. Waktu yang diperlukan untuk menuju ke daerah rawan bencana dan lokasi penampungan
2. Tempat Penampungan Sementara dapat menampung beberapa pengungsi
3. Beberapa bangunan yang dapat dipakai dan di mana bengunan itu dapat dipakai untuk menampung pengungsi
4. Personil yang dibutuhkan
5. Peralatan yang diperlukan
Pelaksanaan
• Lahan yang dibutuhkan untuk satu jiwa 45 m2;
• Ruang tenda/shelter per jiwa 3.5 m2;
• Jumlah jiwa untuk satu tempat pengambilan air = 250 jiwa;
• Jumlah jiwa untuk satu MCK = 20 jiwa;
• Jarak ke sumber air tidak melampui jarak 15 m;
• Jarak ke MCK 30 m;
• Jarak sumber air dengan MCK 100 m
• Jarak antara dua tenda/shelter minimal 2 m
LOGISTIK
Logistik : mekanisme PENDUKUNG dalam rangka penyediaan barang dan jasa (Logistik BUKAN merupakan
program), Logistik terlibat sejak dari AWAL untuk semua kegiatan.
3 ( tiga ) hal pokok yang perlu diperhatikan dalam rangka memenuhi opsi terbaik dalam penyediaan barang dan
jasa
• Standarisasi - pengaturan/mekanisme kerja yang seragam;
• Sistim yang fleksibel untuk mengkontrol mata rantai pasokan barang untuk memenuhi kebutuhan operasional di
lapangan;
• SDM yang kapabel (Profesional) – logistik merupakan pekerjaan yang sangat kompleks sehingga memerlukan ahli di
bidang tersebut;
Fungsi Penting Berkaitan dalam Logistik
☻ Assessment dan Perencanaan
☻ Penyediaan Barang dan Jasa
☻ Pengelolaan Pergudangan
☻ Pengelolaan Transportasi
☻ Pelaporan.
Identifikasi Bantuan
Bantuan dapat diidentifikasikan berdasarkan jenis dan prinsip. Jenis bantuan terdiri dari bantuan pangan dan non pangan,
bantuan air bersih dan sanitasi, bantuan penampungan, serta bantuan kesehatan
☻ Bantuan pangan dan non pangan :
Bantuan pangan dapat berupa makanan jadi, siap makan, maupun bantuan pangan berupa bahan mentah ( beras, mi
instan, daging kaleng, dll ). Sedangkan untuk bantuan non pangan lebih diartikan pada bantuan berupa alat kebersihan
diri ( Hygiene Kit ) maupun perlengkapan keluarga, termasuk didalamnya alat-alat dapur dan pakaian.
☻ Bantuan air bersih dan sanitasi :
Bantuan air bersih dan sanitasi dapat berupa penyuplaian air bersih ke lokasi darurat ataupun pembangunan sarana
pembuangan, drainase, dan MCK sementara.
☻ Bantuan penampungan :
Bantuan penampungan tidak selalu diartikan membangun tenda penampungan, melainkan juga dapat berarti
menggunakan fasilitas bangunan yang masih ada untuk dijadikan tempat penampungan. Termasuk di dalam bantuan
penampungan adalah bantuan untuk bahan pangan dengan mendirikan Dapur Umum
☻ Bantuan kesehatan :
Bantuan kesehatan yang diberikan biasanya dalam bentuk Posko Kesehatan, pengobatan dan obat-obatan gratis,
ataupun penyediaan tenaga kesehatan
Prinsip bantuan PMI adalah :
☻ Diberikan secara langsung kepada korban bencana yang berhak menerimanya
☻ Diberikan secara langsung oleh Petugas PMI dan tidak diserahkan melalui pihak ketiga
☻ Harus dilengkapi dengan tanda penganal PMI ( logo ), baik pada kemasan barang maupun pada lokasi distribusi
Pertimbangan Distribusi
☻ Komposisi usia dan komposisi jenis kelamin
☻ Ketersediaan sumber daya manusia dan sarana transportasi
☻ Kondisi keamanan
☻ Jenis bencana
☻ Jumlah penerima bantuan
☻ Jenis bantuan yang diberikan
☻ Jangka waktu operasi
☻ Lokasi distribusi ( cukup menampung total penerima bantuan )
☻ Menjamin keamanan barang ( misal : alam = hujan, panas matahari )
☻ Menjamin keamanan petugas
☻ Mudah diakses
Panca Tepat
☻ Tepat waktu :
Dalam melakukan distribusi bantuan, ketepatan waktu adalah hal yang terpenting. Bantuan yang berguna apabila
diberikan pada waktu yang salah, maka akan kehilangan kegunaannya. Selain itu juga, bantuan yang tepat waktu akan
membantu mengurangi tingkat penderitaan manusia
☻ Tepat tempat : Tepat tempat di sini dapat berarti pemilihan tempat distribusi yang tepat, dan dapat juga berarti pemilihan barang
distribusi yang tepat dengan tempatnya. Kedua terminologi ini dapat berlaku, tergantung pada situasi dan kondisi
penyertanya.
☻ Tepat sasaran :
Sasaran yang tepat dalam penyaluran bantuanadalah berpegang pada prinsip golongan yang pal ing rentan ( most
vulnerable people )
☻ Tepat jumlah :
Jumlah yang tepat akan memperlancar aktifitas dan akan menghindarkan dari masalah yang lebih besar lagi ( contoh :
ketidakadilan ). Jumlah yang tepat tidak selalu harus memberikan jumlah yang banyak ataupun berlebih pada
masyarakat di lokasi darurat. Namun sesuai dengan kebutuhan, berdasarkan pada sasaran yang dituju.
☻ Tepat kualitas :
Tepat kualitas adalah memberikan barang bantuan dengan kualitas yang layak. Bukan merupakan barang bantuan
dengan kualitas tertinggi, namun juga bukan barang yang tidak berkualitas.
Panca Tepat sangat berkaitan erat dengan akuntabilitas organisasi di masyarakat, pemenuhan panca tepat akan semakin
memperkuat kepercayaan masyarakat pada organisasi
DAPUR UMUM
Pengertian Dapur Umum
Dapur Umum adalah Dapur Umum Lapangan yang diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia untuk
menyediakan atau menyiapkan makanan dan dapat didistribusikan kepada korban bencana dalam waktu cepat dan tepat
Penyelenggaraan Dapur Umum dilakukan apabila tidak memungkinkan bantuan mentah untuk korban bencana.
Penyelenggaraan Dapur Umum untuk melayani kebutuhan makan para penderita / korban bencana bukan monopoli
organisasi PMI, namun dapat diselenggarakan oleh siapa saja dan dapat menyelenggarakannya
Penyelenggaraan Dapur Umum yang diselenggarakan oleh PMI Cabang menjadi tanggungjawab Pengurus PMI
Cabang, yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh regu yang ditugaskan oleh Pengurus Cabang. Regu disesuaikan
dengan kebutuhan dan jumlah korban yang harus dilayani.
Tim Pengelola
Pembagian Tim Pengelola ( Regu – Kelompok – Sektor ) dalam pelaksanaan Dapur Umum yang disesuaikan dengan
kebutuhaan dan jumlah sasaran penerima bantuan yang harus dilayani
◙ Regu :
Satu regu yang menangani 1 unit dapur umum dengan kapasitas maksimal melayani 500 orang sekurang-kurangnya
terdiri dari :
1. 1 orang Ketua Regu
2. 1 orang Wakil Ketua Regu
3. 1 orang Penanggungjawab Tata Usaha
4. 1 orang Penanggungjawab Peralatan dan Perlengkapan
5. 1 orang Penanggungjawab Memasak
6. 1 orang Penanggungjawab Distribusi
7. Beberapa orang tenaga yang membantu terdiri dari unsur masyarakat di daerah bencana dan sekitarnya
◙ Kelompok :
Bila diperlukan lebih dari satu regu Dapur Umum sekaligus, maka regu – regu tersebut diberi nomor urut dan
dihimpun dalam kelompok. Kelompok dipimpin oleh Ketua Kelompok dan jika perlu dibantu oleh seorang pembantu
umum
◙ Sektor :
Apabila masyarakat yang dilayani cukup besar jumlahnya dan terpencar di daerah yang cukup luas, maka kelompok-
kelompok Dapur Umum tersebut dapat dihimpun dalam satu wilayah kerja yang disebut sektor. Sektor tersebut
dipimpin oleh Ketua dan seorang pembantu umum
Dalam menentukan lokasi agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Letak Dapur Umum dekat dengan posko atau penampungan supaya mudah dicapai atau dikunjungi oleh korban
2. Kebersihan lingkungan cukup memadai
3. Aman dari bencana
4. Dekat dengan transportasi umum
5. Dekat dengan sumber air
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendistribusian :
1. Distribusi dilakukan dengan menggunakan kartu distribusi
2. Lokasi atau tempat pendistribusian yang aman dan mudah dicapai oleh korban
3. Waktu pendistribusian yang konsisten dan tepat waktu
4. Pengambilan jatah seyogyanya diambil oleh KK atau perwakilan yang sah
5. Pembagian makanan bisa menggunakan daun, piring, kertas, atau sesuai dengan pertimbangan aman, cepat, praktis,
dan sehat
Lama penyelenggaraan :
1. Diselenggarakan bila situasi untuk memberikan bahan mentah tidak mungkin
2. Lamanya 1 – 3 hari untuk seluruh korban bencana
3. Hari ke 4 – 7 pemberian dilakukan secara selektif
4. Setelah lebih dari 7 hari diupayakan bantuan berupa bahan mentah
Kaitan Dapur Umum dengan Standar Minimum
Standar-standar minimum ketahanan pangan, gizi, dan bantuan pangan adalah suatu pernyataan praktis dari asas-
asas dan hak-hak seperti yang terkandung dalam Piagam kemanusiaan.Setiap orang berhak atas pangan yang cukup, hak
ini diakui dalam Instrumen Hukum Internasional dan termasuk hal untuk terbebas dari kelaparan.
Aspek-aspek hak untuk mendapatkan kecukupan pangan tersebut di atas mencakup :
◙ Ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi individu, bebas dari
bahan-bahan yanag merugikan, dan dapat diterima dalam suatu budaya tertentu.
◙ Pengan tersebut dapat dijangkau dengan cara berkesinambungan dan tidak mengganggu pemenuhan hak-hak asasi
manusia lainnya Pentingnya ketahanan pangan dalam masa bencana :
◙ Ketahanan Pangan :
Tercapai ketika semua orang dalam masa apapun mempunyai akses fisik dan ekonomis terhadap pangan yang cukup,
aman, dan bergizi untuk dapat hidup sehat
◙ Penghidupan :
Terdiri dari kemampuan, harta benda, dan aktivitas yang diperlukan untuk sarana kehidupan yang terkait dengan
pertahanan hidup dan kesejahteraan di masa mendatang
◙ Kekurangan Gizi :
Mencakup satu cakupan berbagai kondisi termasuk kekurangan gizi akut, kekurangan gizi kronis, dan kekurangan
vitamin dan mineral.
Peralatan dan Perlengkapan
Untuk melayani kurang lebih 500 orang diperlukan satu unit peralatan yang terdiri dari:
1. Peralatan pokok
a. Langseng ukuran 100 liter 2 buah
b. Drum air ukuran 50 liter 2 buah
c. Panci ukuran besar ...... 2 buah
d. Wajan no.48 ................ 2 buah
e. Serok penggorengan ... 1 buah
f. Susuk wajan ............ …… 2 buah
g. Sendok takaran 300 gram 2 buah
h. Sendok sayur ¼ liter ... 2 buah
i. Panci untuk tempat nasi 2 buah
2. Peralatan penunjang
a. Ember plastik biasa dan pakai tutup masing-masing 2 dan 3 buah
b. Centong air dari plastik 2 buah
c. Cobek batu ................. 2 set
d. Pisau dapur ................ 3 buah
e. Golok ......................... 1 buah
f. Talenan ...................... 2 buah
g. Ayakan bambu/plastik 2 buah
h. Drum air .................... 1 buah
3. Tungku
Tungku yang dipergunakan dalam Dapur Umum dapat berupa tungku sederhana dan dapat juga
menggunakan kompor, baik itu kompor gas elpiji maupun kompor pompa minyak tanah
Contoh kartu distribusi dan Rekapitulasi Distribusi.
KARTU DISTRIBUSI
Nomor Dapur : .......................................................
Nomor Kode D. U. : .......................................................
Nama Kepala Keluarga : .......................................................
Jumlah Jiwa : .......................................................
Alamat/Lokasi/Pos : .......................................................
Tanggal Makan Pagi Makan Sore Keterangan
REKAPITULASI DISTRIBUSI
Alamat/Lokasi/Pos : .......................................................
Nomor Dapur : .......................................................
Tanggal : .......................................................
No Nama KK
Jumlah Jiwa *) Makan
Pagi
Makan
Sore
Keterangan
D A B
*) catatan
D = dewasa
A = anak-anak
B = bayi
..............,...................
Petugas Distribusi,
.......................................
0 komentar:
Posting Komentar